Agustus 1, 2021

Galamusik

"Be impressed, not obsessed"

Romantika Kaset Pita dalam Gempuran Digital

Sumber Foto : Dokumentasi pribadi penulis

Sejak pertengahan Juli hingga Agustus, hujan tak pernah lupa singgah di Jakarta Selatan. Hari ini aku memang sengaja menembus hujan dari Cibubur menuju Blok M Square dengan sepeda motor. Ada apa dengan Blok M Square ? Blok M Square yang sebelumnya adalah Aldiron Plaza yang sempat berjaya pada akhir tahun 70 hingga tahun awal tahun 90. Aldiron Plaza kalah bersaing pada dekade 90 karena kemunculan Plaza Blok M dan Pasaraya Grande sehingga pada tahun 2008, Aldiron Plaza dirubuhkan dan menjadi Blok M Square. Salah satu daya tarik dari tempat itu adalah masih ada para pelestari dari lagu-lagu lawas. Ya, itu merupakan salah satu tempat di Jakarta yang masih menjual barang-barang langka tersebut.

Lokasi bangunan ini sebenarnya mudah dicari karena Blok M Square merupakan tetangga dari Halte Blok M. Jadi, kalau para sahabat ingin menggunakan angkutan umum, cukup berhenti di Halte Blok M dan berjalan sedikit sehingga sampai di Blok M Square. Jika anda sudah di lantai dasar bangunan tersebut, sahabat cukup turun dua lantai dan cukup mudah untuk menemukan ruko tersebut karena di ruko lantai paling bawah, hanya ada pedagang yang jualan buku-buku, tukang jahit atau jualan emblem, dan rukoyang penuh dengan penjual lagu-lagu lawas.

Sumber Foto :Dokumentasi pribadi penulis

Saya cukup takjub ketika sampai di tempat tersebut. Piringan hitam, koleksi kaset pita, walkman (pemutar portabel kaset pita), hingga turntable yang merupakan pemutar bagi piringan hitam, masih terjual banyak dan ketika masuk dalam lorong ruko tersebut, serasa adanya sekat zaman antara zaman modern dan zaman lawas. Sungguh, bagi kalian yang hobi musik, kompleks tersebut akan membuat para sahabat berlama-lama, bahkan akan merongrong dompet anda untuk membeli entah album penyanyi kesayangan atau sekadar memanjakan mata.

Saya kemudian mampir ke salah satu toko musik, namanya D’Jadul. Pemilik toko tersebut adalah Ridwan. Saya dan Ridwan sempat mengobrol album mana saja yang langka, band apa yang pada tahun ini akan meriliskan album baru, sedikit sejarah seputar perkembangan band di Indonesia pada zaman dahulu.

Sumber foto : Dokumentasi pribadi penulis

Pria yang mengenakan sweater berwarna hijau dan masker tersebut mengaku sudah berjualan sejak tahun 2010 di Blok M Square. Sebelum di Blok M Square, Ridwan juga sudah berjualan namun tidak memiliki lokasi tetap. Pria yang kebetulan sedang memeriksa kondisi kaset-kasetnya itu mengatakan kalau ia menjual segala jenis aliran musik, namun tetap hal-hal berbau lawas menjadi nomor satu karena itu adalah tema dari toko musiknya dan Ridwan mengatakan tokonya juga menjadi salah satu wadah bagi para musisi indie dalam menyebarluaskan karyanya.

Apa yang membuat saya tertarik dan terkesan terhadap Ridwan yang tetap menjual rilisan fisik di tengah gempuran era digital seperti Youtube, Spotify, Joox, dan lain-lain adalah percaya atau tidak, terdapat kepuasan tersendiri ketika kita memiliki rilisan fisik. Entah melalui kualitas suara, proses kita melihat dan meraba dari sampul album tersebut. Di samping itu, Ridwan mengatakan kalau peminat dari rilisan fisik ternyata masih banyak dan rata-rata mereka yang senang dengan rilisan fisik pasti kurang begitu tertarik dengan format digital. Ridwan pun juga salah satu orang yang lebih senang dengan rilisan fisik.

Sumber Foto : Dokumentasi pribadi penulis

Sebagai seseorang yang senang terhadap rilisan fisik, Ridwan mengaku ada suka duka ketika berjualan. Ridwan mengatakan kalau dukanya adalah ketika mencari album yang langka karena tidak dikeluarkan lagi oleh perusahaan rekaman itu. Sukanya adalah ketika menemukan album yang langka tersebut, selain mendapat kepuasan tersendiri karena mendapat album tersebut, sebuah keuntungan besar pasti akan didapat karena semakin langka barang, semakin mungkin seseorang untuk menjual album tersebut dengan harga tinggi.

Pria yang sudah berjualan di Blok M Square hampir 10 tahun tersebut mengatakan kelebihan dan kekurangan dari kaset pita tersebut. Ridwan mengatakan kalau usia dari kaset pita diyakini lebih lama dan lebih kuat dari Compact Disc asal kita merawatnya dengan telaten. Perlu diingat juga karena kaset pita merupakan barang analog, dibutuhkan perawatan ekstra selain dari perhatian kita terhadap kebersihan kaset pita ini, jika tidak telaten dibersihkan, kaset pita bisa terkena jamur. Selain itu, kualitas pemutar juga menjadi patokan dari usia kaset pita karena jika kualitas pemutar tersebut jelek, kaset pita bisa berpotensi kusut.

Harapan Ridwan ke depan, semoga band atau penyanyi lain tetap melestarikan untuk mengeluarkan rilisan fisik karena terdapat penggemar setia yang masih nyaman dengan membeli rilisan fisik tersebut. Akhir kisah, saya akhirnya membeli album Chrisye – Metropolitan yang dirilis pada tahun 1984 dan album January Christy – Tutup Mata yang dirilis tahun 1990.

Penulis : Bramantyo

Editor : Bimo Samudera

You may have missed

“>

“>

1 min read

“>