September 16, 2021

Galamusik

"Be impressed, not obsessed"

Hacked By MR.PRINS || K-pop dan Diplomasi Korea Selatan dengan Indonesia

Sumber foto: allkpop.com

Situs Ini Telah Di Sentuh Oleh MR.PRINS! –|– Security Is An Illusion =||= Contact : prins@programmer.net ~ Your Site Get Down.. CKCKCK

Semakin berkembangnya teknologi saat ini menjadi salah satu penyebab mudahnya musik tersebar dan dikenal di berbagai belahan dunia. Kecanggihan teknologi di era digital 4.0 ini lah yang menghantarkan musik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Hadirnya platform seperti youtube, twitter, instagram, spotify, Itunes hingga vlive telah menjadi sarana paling efektif dalam memperkenalkan musik dari satu negara ke mancanegara. Fenomena yang sedang terjadi di masyarakat saat ini adalah gelombang musik dari Korea Selatan yang biasa disebut dengan K-pop.

            K-pop sejatinya sudah ada sejak tahun 1992 saat terbentuk boyband bernama Seotaiji and Boys, namun gelombang populer k-pop yang pertama terjadi pada tahun 1996, ditandai dengan hadirnya boyband bernama H.O.T. Boyband ini telah menjadi boyband k-pop gelombang pertama yang berhasil menjual album sebanyak 6,4 Juta kopi selama masa karirnya. Kemudian disusul dengan munculnya Boa dan TVXQ pada tahun 2003. Popularitas budaya k-pop semakin mendunia sejak dikenalnya boyband dan girlband seperti SNSD, Big Bang, 2NE1, 2 P.M, dan Super Junior pada tahun 2009. Mulai saat itu, budaya k-pop semakin berkembang dan solah-olah telah menjadi identitas yang melekat dengan Korea Selatan. Keberadaan musik k-pop semakin diakui di berbagai belahan dunia. Sejauh ini pencapaian k-pop di Amerika pertama kali ditandai dengan kemenangan boyband BTS dalam penghargaan musik seperti American Music Awards, Billboard Music Awards, dan iHeart Radio Music Awards. Tak hanya itu, di Asia pun genre musik ini sangat populer, salah satunya di  negara Indonesia.

 K-pop di Indonesia

            Sebagai penikmat musik k-pop di Indonesia, penulis merasa bahwa kualitas musik genre ini tidak beda jauh dengan kualitas musik pop dari Amerika. Produksi yang para artis k-pop lakukan bisa dibilang tidak sembarangan dan berdasarkan persiapan yang matang. Sebelum debut pun para calon artis k-pop telah menjalani training (masa pelatihan), paling lama hingga 7 tahun. Para artis tersebut juga memiliki modal yang cukup besar untuk memikat para pendengarnya. Dimulai dari penampilan mereka yang rupawan, talenta dan skill yang tidak meragukan, hingga sajian video musik yang estetik dengan konsep tertentu. Mungkin itulah alasan mengapa k-pop sangat populer dan digemari di Indonesia. Dilansir melalui cnnIndonesia.com, berdasarkan riset yang dilakukan twitter, Indonesia merupakan negara ketiga yang paling banyak membicarakan kpop di platform twitter. Tak hanya itu, kita juga dapat menjumpai para artist menjadi trendin  baik di platform twitter maupun youtube Indonesia setiap kali mereka mengeluarkanalbum atau lagu baru.

Sumber foto: cnnindonesia.com

K-pop Sebagai Alat Diplomasi Publik

            Fenomena k-pop ini tanpa disadari telah mengantarkan budaya Korea Selatan masuk ke Indonesia. Terlebih jika mengingat bahwa Indonesia temasuk negara yang terbuka akan budaya lain, sehingga budaya k-pop mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Keterbukaan ini misalnya muncul saat e-commerce yang saling berlomba untuk menjadikan para artis k-pop sebagai brand Ambassador. Hal itu yang memicu timbulnya proses diplomasi antara Korea Selatan dengan Indonesia melalui budaya k-pop. Proses diplomasi awalnya merupakan sebuah usaha, berkaitan dengan kepentingan politik international untuk menghubungkan dua negara melalui negosiasi yang dilakukan oleh seorang diplomat. Namun, dewasa ini proses diplomasi telah dimodernisasi hingga munculnya istilah diplomasi publik. Singkatnya, dalam proses diplomasi public pelaku diplomasi tidak lagi seorang diplomat ataupun pemerintah, tetapi bisa juga melalui organisasi non-pemerintah, bahkan individu (Nyarimun dan Alam, 2017:80)

Aktor dalam proses diplomasi publik antara budaya Korea Selatan dengan Indonesia ini adalah para artis k-pop, mereka membawa dampak yang cukup signifikan dalam proses terjalinnya hubungan diplomasi. Menurut penulis, proses diplomasi publik ini terjadi melalui beberapa hal. Pertama, melalui acara yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia dengan mengundang artis k-pop, misalnya: Shopee, Tokopedia, dan acara awards seperti Indonesian Television Awards.

Kedua, melalui program yang memang diselenggarakan oleh artis k-pop itu sendiri, seperti program milik boyband NCT yang diunggah dalam laman youtube nya. Program berjudul NCT “Ayo Belajar Bahasa Indonesia” ini berisi tentang para artis dari boyband k-pop bernama NCT (Neo Culture Technology) yang sedang belajar mengenal bahasa Indonesia

            Ketiga, melalui kunjungan wisata ke Indonesia yang dilakukan oleh artis k-pop misalnya seperti yang pernah dilakukan oleh Jeonghan, Wonwoo, dan S.Coups dari boyband Seventeen dalam sebuah program bernama “Battle Trip”“Battle Trip” menyajikan tayangan perjalanan ketiga personil Seventeen tersebut selama berwisata ke Yogyakarta, Indonesia. Adapun tempat-tempat yang mereka kunjungi seperti; Malioboro, Candi Borobudur, Gumuk Pasir, dan Pantai Parangtritis.

            Itulah upaya-upaya diplomasi publik yang tanpa sadar telah terjadi antara dua negara, yaitu Indonesia dan Korea Selatan. Jika melihat potensi popularitas artis k-pop di seluruh dunia dampak dari pertukaran budaya tersebut mungkin akan lebih besar dari yang dikira.  Hal ini karena tayangan-tayangan di atas telah diunggah dalam platform youtube yang sangat mudah di akses oleh semua orang di seluruh belahan dunia. Jadi, itu juga yang nantinya turut membawa budaya Indonesia ke kancah International.

            Kesimpulannya, dewasa ini proses diplomasi dengan tidak sengaja telah terjadi antara negara Indonesia dengan Korea Selatan melalui budaya k-pop yaitu melalui berbagai hal seperti yang telah disampaikan. Dari situ lah timbul pemikiran bahwa menjadi negara yang terbuka dengan budaya lain agaknya bukanlah sesuatu yang buruk. Stigma masyarakat terhadap berkembangnya zaman memang cenderung mengarah pada pemikiran negatif, padahal nyatanya ada hal-hal positif yang bisa dipelajari. Stigma negatif yang berkembang di masyarakat misalnya kebiasaan meniru gaya hidup yang dianggap tidak wajar, sedangkan hal positif yang dapat dipelajari yaitu menjadi masyarakat yang bebas namun tetap bertanggung jawab. Sebagai masyarakat yang hidup di era globalisasi ini sudah selayaknya kita menjadi masyarakat yang cerdas dan selektif. Tentunya, mempertahankan dan melestarikan budaya asli negara Indonesia adalah sebuah kewajiban, namun alangkah lebih baik bila kita juga tidak menutup diri dari budaya lain.

Penulis : Zevira Anastasia

Editor: Bimo Samudera

You may have missed

“>

“>

1 min read

“>