April 23, 2021

Galamusik

"Be impressed, not obsessed"

January Christy “Aku Ini Punya Siapa”: Pesona 80an yang Kian Asing

Sumber foto: Dokumentasi pribadi penulis

Pasti beberapa sahabat sudah menonton film “Aruna & Lidahnya” yang diperankan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, para sahabat pasti tak asing ketika mendengar permainan terompet yang menjadi pembuka film dan iringan dalam trailer film tersebut. Ya, lagu itu adalah Aku Ini Punya Siapa yang dinyanyikan oleh January Christy.

Bagi generasi muda saat ini, nama January Christy mungkin asing terdengar karena January Christy menemani para remaja 80-an. Jika orangtua kita bersekolah di era tersebut, mungkin nama-nama seperti January Christy, Fariz RM, Candra Darusman, dan grup band Candra Darusman yakni Chaseiro, tidak asing di telinga mereka karena para musisi tersebut sempat digandrungi para remaja di era tersebut.

Saya juga pertama kali mendengar dan tahu January Christy sekitar kelas 6 SD atau 7 SMP pada tahun 2011. Kala itu, Om saya meminta tolong untuk mengunduh dua lagu January Chisty yang berjudul Aku Ini Punya Siapa dan Melayang. Saya bingung siapa penyanyi tersebut. Setelah saya unduh lagu itu, saya coba mendengarkan lagu itu karena iseng dan memancing rasa penasaran saya karena penyanyi ini unik dari segi suara, seorang perempuan yang memiliki warna suara rendah seperti pria.

Perempuan kelahiran Bandung, 17 Januari 1958 ini, sempat melakukan rekaman di Jerman sebelum akhirnya berkarier di Indonesia. Album pertamanya berjudul “Melayang” yang diambil dari salah satu lagu dalam album tersebut pada 1986. Satu tahun setelahnya, January Christy kembali meluncurkan album “Aku Ini Punya Siapa” dengan nama yang sama seperti salah satu lagu di dalam album itu. Tahun 1989 kembali mengeluarkan album “Mana” yang nama albumnya masih sama seperti salah satu daftar lagu. Tahun 1991 mengeluarkan album keempatnya yang berjudul “Tutup Mata”. Pada tahun 1997, January Christy

tersandung kasus penyalahgunaan narkoba dan nama January Christy kian asing didengar generasi muda sampai akhir hayatnya pada 16 September 2016 karena sakit.

Melihat sampul album Aku Ini Punya Siapa, sahabat akan disuguhkan dengan pose khas January Christy yang bersandar di mobil Honda Civic Hatchback keluaran 80-an dan kacamata aviator yang identik dengan era tersebut. Daftar lagu pertama adalah Masa-Masa. Sahabat akan dimanjakan dengan aransemen yang seperti musik-musik karnaval di Brazil dengan “sempritan” yang ciri dari musik di karnaval. Lagu yang digarap oleh Erwin Gutawa dan Harry Kiss ini mengajak pendengar untuk jangan mudah putus asa dalam menghadapi situasi yang membuat kita sedih. Adakala kita di masa yang paling terpuruk, namun ada juga masa yang menyenangkan di depan sana, seperti pada reff:

Tanamkan kepastian

Dalam meraih cita yang menjadi harapan

Jalan berliku dalam kehidupan

Taburan hikmah semata…

Sumber Foto: Dokumentasi pribadi penulis

Lagu kedua adalah Aku Ini Punya Siapa. Ya, lagu ini sama seperti nama album kedua January Christy yang menceritakan kebingungan seseorang seseorang dalam percintaan karena memiliki pasangan yang merupakan buaya darat. Nuansa jazz, warna suara January Christy yang rendah, permainan bas menawan Erwin Gutawa yang harus sahabat dengar dengan volume keras, dan improvisasi January Christy dalam memainkan nada menjadi daya tarik sendiri bagi para pendengar seakan-akan memberi imajinasi para pendengar berada di Amerika yang menjadi asal dari musik jazz. Melihat klip video di Youtube, para sahabat bisa merasakan atmosfer pada era 80 tersebut, baik segi pengambilan gambar atau konsep dari video klip tersebut. Aku Ini Punya Siapa dibuat bersama Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra yang banyak membantu January Christy dalam beberapa lagu di setiap albumnya.

Setelah Aku Ini Punya Siapa, pendengar akan disuguhkan dengan lagu Kucoba. Nuansa yang dihadirkan lebih ke arah pop yang mendayu karena tempo lagu yang lebih pelan dari lagu sebelumnya, namun tetap terkesan energik dengan gebukan drum yang bervariasi. Menceritakan kisah pasangan yang masih ingin memperbaiki hubungan yang sudah rusak, usaha itu akan terus dilakukan meskipun hasilnya berupa kesedihan yang semakin menjadi-jadi.

Lagu keempat adalah Bertahan, tempo yang disuguhkan kembali cepat dan lagu yang digarap bersama James F. Sundah, musisi kondang yang pernah dinyanyikan lagunya oleh Chrisye yakni “Lilin-lilin Kecil”, kembali mengangkat tema tentang membangkitkan semangat. Maklum saja pada album pertama January Christy tidak mengangkat tema tentang “cinta-cintaan” sama sekali sehingga pada album kedua ini, lagu kedua menjadi lagu January Christy yang bertemakan cinta. January Christy memberi pesan yakni kita harus konsisten dalam memperjuangkan suatu apapun, segala godaan atau badai yang sudah menunggu tak dapat kita hindarkan.

Penutup dari side A kaset pita ini adalah Kenyataan Silih Berganti yang digubah oleh Candra Darusman, salah satu personel band Chaseiro yang sering berkolaborasi dengan musisi lain dan memiliki dua album solo yaitu Indahnya Sepi dan Kekagumanku. Tempo lagu kembali dibawakan pelan membawa nuansa syahdu dan cocok menjadi teman untuk merenungkan akan diri sendiri karena realitas kehidupan yang menjadi patokan kita untuk menyadari kemampuan diri dan kita harus bersyukur atas nikmat hidup yang kita rasakan di dunia baik senang atau susah. Seperti reff lagu ini:

Beragam cinta

T’lah menunjukkan pada kita

Bahwa hidup adalah nikmat

Dan azab silih berganti

Keharusanku menyadari kini

Bahwa hidup adalah upaya

Manusia dan takdir silih

Berganti…

Side A album telah usai, saatnya mengganti ke side B. Menjadi sensasi tersendiri bagi kita yang saat ini sudah dimanjakan dengan youtube atau spotify karena menggunakan walkman, lalu mengganti ke sisi lainnya untuk mendengarkan keseluruhan lagu di album sembari mengembalikan rotasi kaset pita. Belum lagi kualitas media pemutar atau kaset tersebut yang bisa mempengaruhi tempo keseluruhan album, kualitas suara, atau nada dasar dari lagu sehingga memunculkan sensasi tersendiri dan bisa membuat kita “senyum-senyum sendiri” sebagai konsumen. Ucapan selamat datang dari side B adalah lagu Tiada Waktu ‘tuk Cinta. Lagu ini tidak terlalu cepat, namun tidak pelan mendayu pula, namun terkesan energik dengan gebukan drum dan permainan terompet yang menembak-nembak di saat tertentu.

Masih seputar cinta, Kita Berdua Satu adalah lagu selanjutnya yang digarap oleh Ricky Basoeki. Ketika mendengar lagu ini, rasanya tidak norak jika terpancing imajinasi seperti ending film drama tahun 60, Breakfast at Tiffany’s dimana pada situasi hujan, sang tokoh utama yang basah kuyub, menyatakan iya untuk menjalin kasih dengan pasangannya, namun dengan kearifan lokal karena lagu ini mendorong untuk memberi kesan romantis dengan permainan terompet atau saksofon yang syahdu, efek organ dengan memberikan satu atau dua dentingan, dan pilihan kata yang membuat kita hanyut dalam romansa dengan pasangan seperti:

O kasih ini

Lebur dalam kata, lebur dalam rasa asmara

O hasrat ini

Dalam cita kita dalam cinta kita bahagia

Lagu Kembali Sadar menurunkan sedikit tempo dan nuansa pop terasa di lagu ini. Lagu yang dibuat Erwin Gutawa dan Deddy Dhukun ini mengisahkan kebahagiaan seseorang atas bangkitnya teman yang sempat terpuruk. Sebuah apresiasi bagi teman yang berjuang untuk berdiri tegak dan mendukung dari belakang untuk mengejar yang tertinggal selama ia terpuruk.

Selanjutnya ada lagu Cinta Dini yang digarap Bagoes A.A. Dari judul lagu, lagu ini rasanya tepat ditujukan untuk para remaja yang mengutarakan cinta pada lawan jenisnya. Kadang, kenekatan dalam mengutarakan rasa malah menjadi faktor dari suatu hubungan menjadi langgeng karena nanti saja memikirkan resiko yang terjadi.

Penutup dari album ini, adalah lagu yang kembali digubah oleh Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun yang berjudul Mandiri. Dari judulnya, lagu ini mewakili perasaan hati para anak muda untuk mandiri dan Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) karena lambat laun, kita akan menggantungkan hidup pada diri sendiri, kita akan lepas dari dekapan orangtua untuk melanjutkan hidup kita. Nuansa gembira dengan tempo yang cepat kembali disuguhkan. Permainan bas juga menambah kesan “seksi” karena pergerakan nada dari gitar bas pada lagu ini yang jarang namun sesekali agresif dan cocok juga untuk iring-iringan menari kala melepas penat.

Semoga dengan bacaan ini, sahabat tentu mengingat istilah “Jas Merah” dari Soekarno yakni jangan sekali-kali melupakan sejarah karena biar bagaimanapun juga, album yang sudah berusia 33 tahun adalah bukti kreatif musisi Indonesia dan tugas kita sebagai generasi muda adalah tidak hilang ditelan zaman dan menjadi referensi juga bagi anak cucu kita di kemudian hari. Salam!

Jangan lupa untuk membaca artikel rekomendasi dari penulis,

Penulis: Bramantyo Yamasatrio Kumoro

Editor: Nando